Pilih Mana: Ethereum atau IOTA?

Pertanyaan tentang pemilihan antara Ethereum dan IOTA dalam dunia kripto sering kali menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Keduanya adalah platform blockchain yang memiliki karakteristik dan kegunaan yang berbeda.

Ethereum dikenal sebagai salah satu platform blockchain terbesar dan terpopuler yang mendukung pembuatan aplikasi terdesentralisasi (dApps) dan kontrak pintar (smart contracts). Di sisi lain, IOTA adalah platform yang mengutamakan Internet of Things (IoT) dengan fokus pada transaksi mikro dalam lingkup besar, seperti mesin-mesin yang terhubung secara langsung.

Dalam artikel ini kami akan membahas lebih dalam mengenai Ethereum dan IOTA, mulai dari kelebihan hingga kekurangan yang dimiliki oleh keduanya. Simak lebih lanjut artikel berikut!

Ethereum

Ethereum diciptakan pada tahun 2014 oleh Vitalik Buterin, salah satu pengembang Bitcoin dari tahun 2011 hingga 2013. Pada saat Buterin mengembangkan Bitcoin, ia menemukan inovasi kalau mata uang kripto itu mesti dibuat lebih mudah “disesuaikan”, sehingga Bitcoin bisa memiliki peran lebih besar dari cuma dipakai sebagai tempat penyimpanan kekayaan saja.

Ethereum mengadopsi sistem Blockchain yang dipakai mata uang kripto pada umumnya seperti Bitcoin. Blockchain diciptakan pada tahun 2009 bersamaan dengan penciptaan Bitcoin oleh Satoshi Nakamoto, dimana revolusi internet dimulai dengan kode unik yang tidak dapat diubah (kekal).

Blockchain merupakan Buku Besar digital yang terdesentralisasi yang terus mencatat semua transaksi (block) yang dilakukan dari awal teknologi itu dibuat.

Ethereum diciptakan dengan tujuan menciptakan platform di mana Smart Contracts bisa dijalankan. Smart Contracts merupakan kontrak self-executing yang ditulis dalam baris kode dimana kesepakatan yang ada dalam kontrak dapat dilaksanakan secara otomatis.

Smart Contracts memungkinkan pembayaran secara instan tanpa delay, tanpa gangguan, dan tanpa pihak ketiga (perantara) yang dilakukan pada jaringan terdesentralisasi.

Vitalik Buterin menciptakan teknologi Ethereum berbeda dari mata uang kripto seniornya, Bitcoin. Teknologi Ethereum merupakan teknologi Open Source, maksudnya dapat dikembangkan oleh pihak manapun di dunia ini.

Tidak hanya itu, Ethereum memiliki EVM (Ethereum Virtual Machine) yang memungkinkan pengembang dalam mengembangkan serta meluncurkan berbagai aplikasi yang terintegrasi pada jaringan Ethereum sebagai fasilitator transaksinya.

Kelebihan Ethereum

Kemampuan yang Luas

Ethereum memiliki kemampuan yang lebih luas daripada jaringan blockchain lainnya, karena dapat menyimpan berbagai jenis informasi, selama informasi tersebut dapat direpresentasikan dalam bentuk kode komputer. Hal ini memungkinkan Ether untuk menjalankan aplikasi smart contract, yaitu kontrak yang diprogram untuk otomatis dieksekusi ketika suatu kondisi terpenuhi.

Terdesentralisasi sehingga Lebih Aman

Ethereum adalah jaringan blockchain yang terdesentralisasi, yang berarti tidak ada satu otoritas pun yang mengendalikan jaringannya. Hal ini menjadikan Ether lebih aman dan terlindungi dari tindakan-tindakan yang tidak diinginkan.

Likuiditas yang Tinggi

Ether, sebagai mata uang kripto, memiliki tingkat likuiditas yang tinggi dengan banyak opsi untuk dibeli atau dijual di pasar keuangan. Kondisi ini mempermudah perdagangan Ether dan memberikan peluang bagi penggunanya untuk mengelola risiko secara lebih efektif.

Mempunyai Reputasi yang Solid dan Kompeten

Tim pengembang ethereum juga sudah mempunyai reputasi sebagai tim yang solid dan kompeten dalam meningkatkan stabilitas, keamanan, fungsionalitas, dan skalabilitas blockchain ethereum. Fakta ini memberikan ketenangan untuk para pengembang aplikasi yang akan membuat aplikasi pada ethereum.

Kekurangan Ethereum

Biaya Pemrosesan yang Tinggi

Mengirim transaksi di jaringan Ethereum memerlukan biaya pemrosesan yang harus dibayar dalam bentuk Ether, yang dapat bervariasi dan menjadi tinggi tergantung pada tingkat aktivitas atau kesibukan jaringan.

Belum Teruji Secara Luas

Jaringan Ethereum masih relatif baru dan belum diuji secara luas dibandingkan dengan jaringan blockchain lainnya. Situasi ini dapat dianggap sebagai risiko bagi pengguna yang berniat menggunakan Ether untuk aplikasi yang memiliki kepentingan atau kritis.

IOTA

IOTA didirikan pada tahun 2015 oleh David Sonstebo, Sergey Ivancheglo, Dominik Schiener, serta Dr. Serguei Popov. IOTA diawasi oleh IOTA Foundation, suatu organisasi nirlaba yang berdedikasi buat mengembangkan teknologinya dan mempertahankannya sebagai teknologi bebas lisensi untuk semua pengembang yang ingin ikut serta.

IOTA merupakan salah satu cryptocurrency baru yang menarik atensi. Hal itu disebabkan IOTA tidak memakai teknologi blockchain seperti crypto-crypto yang lain, akan tetapi mereka memakai teknologi yang disebut DAG (Directed Acyclic Graph). Arsitektur rancangan mereka benar-benar revolusioner yang dinamakan Tangle. Tangle tidak mempunyai block, rantai atau penambang.

IOTA Foundation sudah menjalin kerjasama dengan sebagian perusahaan yang sudah mempunyai nama besar seperti Volkswagen, Innogy, Deutsche Telekom, Microsoft dan Fujitsu.

Salah satu hasilnya merupakan CarPass yang memungkinkan jalur audit yang aman, identitas digital dan jaringan pengisian BBM untuk mobil.

Lahirnya teknologi radikal di dunia cryptocurrency yang dipelopori oleh IOTA ini yaitu mencoba mengurai permasalahan mendasar pada blockchain. Misalnya yaitu keterbatasan skala, sulitnya menjaga biaya tetap rendah dan berusaha untuk mempertahankan desentralisasi.

Kelebihan IOTA

Sangat Desentralisasi

Karena IOTA tidak mempunyai penambang. Tiap peserta dalam jaringan yang melakukan transaksi, berpartisipasi aktif dalam konsensus. Lebih desentralisasi dibandingkan blockchain manapun.

Transaksi Mikro

Untuk pertama kalinya, transaksi dengan ukuran mikro dan nano bisa dimungkinkan terjadi sebab arsitektur IOTA Tangle yang unik. Perihal ini memberikan para pengembang seperangkat alat anyar untuk implementasi IOT pada aplikasi bisnis mereka.

Sehingga, para pelaku bisnis atau perusahaan yang enggan memakai Bitcoin karena biaya transaksinya yang semakin mahal, bisa beralih memakai IOTA, sebab biaya transaksi nol (0).

Fitur Transfer Data

Data Transfer merupakan fitur inti pada IOTA, yakni kemampuan untuk mentransfer data melalui Tangle. IOTA memberikan pilihan kepada para developer serta pemakai untuk membuat saluran komunikasi yang aman dan ter- autentikasi antar perangkat. Semua data yang ditransfer lewat IOTA Tangle sepenuhnya ter-autentikasi dan bisa dilakukan dengan mudah.

Kekurangan IOTA

Belum Ada Smart Contract

Ini belum ada untuk IOTA, dan ini merupakan kelemahan besar untuk pengembang. Bahkan, kurangnya smart contract akan jadi penghambat jika kalian mau membuat segala jenis Aplikasi Terdesentralisasi atau “DApp” dengan IOTA.

Kurang Populer

IOTA sendiri kurang populer dikalangan cryptocurrency, berbeda dengan pesaingnya seperti Ethereum, Bitcoin dan lain sebagainya. Tentu itu akan berpengaruh juga dengan calon pemakainya yang akan bergabung.

Perbandingan Ethereum dan IOTA

EthereumIOTA
Kelebihan- Kemampuan yang Luas
- Terdesentralisasi sehingga Lebih Aman
- Likuiditas yang Tinggi
- Mempunyai Reputasi yang Solid dan Kompeten
- Sangat Desentralisasi
- Transaksi Mikro
- Fitur Transfer Data
Kekurangan- Biaya Pemrosesan yang Tinggi
- Belum Teruji Secara Luas
- Belum Ada Smart Contract
- Kurang Populer
Beli online
Harga Termurah

Kesimpulan

Secara singkat, Ethereum dan IOTA adalah dua platform blockchain yang memiliki pendekatan dan fokus yang berbeda. Ethereum lebih dikenal dengan kemampuannya dalam mendukung pembuatan aplikasi terdesentralisasi (dApps) dan kontrak pintar (smart contracts), sedangkan IOTA lebih difokuskan pada Internet of Things (IoT) dengan transaksi mikro yang cepat dan tanpa biaya. Pemilihan antara keduanya tergantung pada kebutuhan dan tujuan pengguna dalam memanfaatkan teknologi blockchain.

Anda Pilih Ethereum atau IOTA?

Vote sekarang untuk melihat hasil polling selera netizen!